Next.js vs React, Mana yang Lebih Praktis Buat Kita?

Next.js vs React memiliki fungsi berbeda. Bandingkan sistem routing, metode rendering, dan kesiapan SEO keduanya untuk menentukan teknologi projekmu.

Next.js vs React, Mana yang Lebih Praktis Buat Kita?
Photo by Rahul Mishra on Unsplash

Pernah gak kamu bingung pas mau mulai projek web baru? Di satu sisi, semua orang ngomongin React. Di sisi lain, Next.js kayaknya jadi standar baru yang wajib dipelajari. Pertanyaan paling mendasar yang sering muncul biasanya sederhana: Kenapa kita gak pakai React biasa aja? Memangnya pakai Next.js jauh lebih praktis?

Pertama-tama, kita perlu luruskan dulu satu hal: Next.js dan React itu bukan dua teknologi yang saling bersaing untuk menggantikan satu sama lain. React adalah pustaka atau library untuk membangun antarmuka pengguna (UI), sedangkan Next.js adalah kerangka kerja atau framework yang dibangun di atas React. Jadi, saat kita menggunakan Next.js, di dalamnya kita tetap menulis kode React.

Pertanyaannya sekarang, mana yang lebih praktis buat kebutuhan projek kita saat ini? Jawabannya sangat tergantung pada jenis aplikasi yang sedang kita bangun dan seberapa banyak konfigurasi yang ingin kita handle sendiri.

React untuk Kebebasan Penuh Tanpa Aturan Ketat

React berfokus penuh pada pembuatan komponen UI yang interaktif dan dinamis. Ketika kita menginisiasi projek React murni menggunakan perangkat bantu seperti Vite, kita sedang membuat aplikasi satu halaman atau Single Page Application (SPA).

Dalam arsitektur SPA ini, seluruh proses rendering terjadi di sisi peramban atau Client-Side Rendering (CSR). Server hanya bertugas mengirim berkas HTML kosong yang sangat minimal beserta bundel JavaScript berukuran besar. Browser kamu yang kemudian bertugas mengeksekusi JavaScript tersebut untuk merender elemen di layar.

Mari lihat contoh komponen sederhana di React:

import { useState } from 'react';

export default function Counter() {
  const [count, setCount] = useState(0);

  return (
    <div className="p-4 text-center">
      <p>Kamu sudah klik {count} kali</p>
      <button 
        className="px-4 py-2 bg-blue-500 text-white rounded"
        onClick={() => setCount(count + 1)}
      >
        Klik Saya
      </button>
    </div>
  );
}

Kode di atas sangat sederhana dan langsung bekerja tanpa konfigurasi server yang rumit. Namun, kepraktisan React murni mulai diuji saat projek kita berkembang menjadi aplikasi skala besar yang memiliki banyak halaman dan membutuhkan integrasi data yang kompleks.

Ketika kita butuh navigasi antarhalaman, React tidak menyediakannya secara bawaan. Kita harus mencari, memasang, dan mengonfigurasi pustaka pihak ketiga seperti React Router. Jika kita butuh optimasi mesin pencari atau SEO, kita harus berurusan dengan pustaka tambahan seperti React Helmet yang kadang cukup merepotkan untuk disinkronkan.

Belum lagi masalah pengelolaan siklus hidup komponen. Kalau kamu sering menghadapi kendala saat menelusuri bug di React, penting untuk tahu cara debugging memakai DevTools agar tidak membuang banyak waktu. Kesalahan manajemen siklus hidup komponen ini juga sering memicu masalah performa yang mengganggu kenyamanan pengguna. Kamu bisa membaca panduan tentang mengapa useEffect sering menyebabkan memory leak untuk memahaminya secara lebih mendalam agar kodenya tetap efisien.

Next js Menjawab Masalah Konfigurasi Manual

Berdasarkan penjelasan di dokumentasi resmi Next.js, framework ini hadir dengan pendekatan yang siap pakai. Next.js membungkus React dan menyediakan semua infrastruktur dasar yang kita butuhkan untuk membuat aplikasi web modern yang lengkap.

Salah satu keunggulan utama Next.js adalah sistem perutean berbasis struktur folder atau file-system routing. Kita tidak perlu lagi menulis kode konfigurasi router yang panjang. Setiap kali kita membuat folder baru di dalam direktori khusus, Next.js secara otomatis mendaftarkannya sebagai halaman baru yang bisa diakses langsung lewat peramban.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas, mari bandingkan struktur dasar folder antara React murni yang menggunakan Vite dengan Next.js yang menggunakan sistem App Router baru.

Struktur folder React murni dengan Vite:

my-react-app/
├── index.html
├── src/
│   ├── main.jsx
│   ├── App.jsx
│   ├── components/
│   └── pages/
├── package.json
└── vite.config.js

Struktur folder Next.js App Router:

my-next-app/
├── app/
│   ├── layout.jsx
│   ├── page.jsx
│   ├── about/
│   │   └── page.jsx
│   └── api/
│       └── route.js
├── components/
├── package.json
└── next.config.js

Pada struktur Next.js di atas, file about/page.jsx langsung bisa diakses di alamat /about tanpa perlu menulis satu baris pun kode konfigurasi router. Hal ini sangat menghemat waktu ketika projek kita memiliki banyak halaman dinamis.

Selain mempermudah perutean, Next.js mendukung Server-Side Rendering (SSR) and Static Site Generation (SSG). Ini berarti halaman web kita dirender di server terlebih dahulu sebelum dikirim ke browser pengguna. Efeknya, halaman web memuat jauh lebih cepat saat pertama kali dibuka, dan mesin pencari seperti Google bisa dengan mudah merayapi seluruh konten kita untuk kebutuhan SEO. Menggunakan framework seperti Next.js membantu mempercepat proses peluncuran aplikasi web yang kompleks karena developer tidak perlu membangun infrastruktur dasarnya dari nol lagi.

Namun, Next.js juga memiliki aturan main tersendiri yang harus kita ikuti. Sebagai contoh, dengan adanya pemisahan antara Server Components dan Client Components, kita tidak bisa sembarangan menggunakan hook seperti useState di semua file tanpa mendeklarasikannya secara spesifik. Bagi yang baru beralih, berhati-hatilah dengan struktur arsitektur baru ini karena ada beberapa kesalahan Next.js App Router yang sering dibuat oleh developer yang baru bermigrasi.

Tabel Perbandingan Fitur Utama

Untuk memudahkan kamu melihat perbedaan fungsionalitas antara keduanya secara langsung, berikut adalah ringkasan perbandingan fitur antara React murni dan Next.js.

Fitur Utama React murni (Vite) Next.js
Jenis Teknologi Pustaka UI Kerangka Kerja Full-Stack
Sistem Perutean Harus dikonfigurasi manual memakai React Router Otomatis menggunakan file-system routing
Metode Rendering Hanya Client-Side Rendering Mendukung SSR, SSG, ISR, dan CSR
Kesiapan SEO Butuh optimasi manual yang cukup rumit Sangat ramah SEO dengan Metadata API bawaan
Pembuatan API Membutuhkan server backend terpisah Menyediakan Route Handlers bawaan
Kecepatan Awal Sangat ringan saat inisiasi projek Sedikit lebih berat namun fiturnya sangat lengkap

Kapan React Murni Terasa Lebih Praktis

Meskipun Next.js terlihat menawarkan banyak keunggulan, bukan berarti kita harus selalu menggunakannya untuk semua skenario projek. React murni yang dikombinasikan dengan Vite sering kali jauh lebih praktis dan efisien untuk kasus-kasus tertentu.

Pertama, jika kamu sedang membangun dasbor admin internal atau aplikasi berbasis SaaS yang seluruh fiturnya berada di balik halaman login. Aplikasi jenis ini sama sekali tidak memerlukan optimasi SEO karena mesin pencari tidak akan pernah bisa melewati halaman login untuk merayapi konten di dalamnya. Menggunakan React murni membuat proses deployment menjadi sangat sederhana karena hasil akhirnya hanya berupa berkas statis biasa yang bisa di-host dengan biaya sangat murah di layanan penyimpanan cloud.

Kedua, jika kamu sedang dalam masa belajar dasar-dasar ekosistem JavaScript. Memulai langsung dari Next.js terkadang membuat proses belajar menjadi bias karena kamu akan kesulitan membedakan mana fitur asli bawaan React dan mana fitur spesifik milik Next.js. Memahami dasar rendering, manipulasi state, dan siklus hidup komponen di React murni akan membentuk fondasi pemahaman yang jauh lebih kuat sebelum kamu melangkah ke arsitektur framework yang lebih kompleks.

Kapan Next js Menjadi Pilihan Mutlak

Sebaliknya, Next.js menjadi pilihan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi ketika projek yang kamu bangun menuntut visibilitas publik yang tinggi. Jika kamu sedang membuat toko online, portal berita, direktori bisnis, atau bahkan landing page produk yang mengandalkan lalu lintas organik dari mesin pencari, Next.js adalah jalan pintas terbaik untuk meraih performa web yang optimal.

Next.js juga sangat praktis ketika kamu ingin membangun aplikasi full-stack skala kecil hingga menengah secara mandiri tanpa harus repot mengelola repo kode terpisah antara frontend dan backend. Melalui fitur Route Handlers, kita bisa menulis kode endpoint API langsung di dalam projek yang sama. Bahkan dengan adanya Server Actions, kita bisa langsung memanggil fungsi database dari komponen frontend kita tanpa harus menulis kode fetch API manual.

Dalam skenario pengembangan di dunia industri, pemilihan teknologi ini juga sangat menentukan efisiensi waktu kerja. Di projek klien kami, tim Javapixa biasanya menggunakan Next.js untuk sistem frontend berperforma tinggi yang menuntut optimasi Core Web Vitals yang ketat, sementara kami tetap memanfaatkan React biasa untuk komponen dasbor internal yang interaktif. Pendekatan ini membuat alur kerja kami jauh lebih terarah dan hasil akhirnya bisa disesuaikan secara presisi dengan kebutuhan bisnis yang bersangkutan.

Menentukan Langkah Terbaik untuk Projekmu

Pada akhirnya, kepraktisan itu sifatnya sangat kontekstual. Tidak ada satu teknologi yang benar-benar mengungguli yang lain dalam segala aspek. Menentukan mana yang paling praktis harus didasarkan pada skala projek, kebutuhan SEO, dan kesiapan infrastruktur tim yang kamu miliki saat ini.

Jika projekmu adalah aplikasi satu halaman yang interaktif, tidak butuh terindeks di halaman pencarian Google, dan kamu menginginkan proses build serta hosting yang sesederhana mungkin, maka menggunakan React murni bersama Vite adalah keputusan yang sangat bijak. Langkah ini akan menghindarkan kamu dari kompleksitas konfigurasi server yang sebenarnya tidak kamu butuhkan.

Namun, jika website yang kamu rancang harus bisa ditemukan dengan mudah oleh calon pengguna lewat Google, membutuhkan waktu pemuatan awal yang instan di perangkat mobile, dan berpotensi tumbuh menjadi platform skala besar dengan banyak halaman dinamis, langsung mulai dengan Next.js adalah investasi terbaik yang akan menghemat banyak waktu kerja kamu di kemudian hari.

Tentang Javapixa

Javapixa Creative Studio adalah tim pengembang aplikasi dari Klaten yang sudah 7+ tahun mengerjakan web app, aplikasi mobile, dan automasi alur kerja untuk 125+ klien. Kita bisa ketemu langsung di Jogja dan sekitarnya, atau kerja bareng secara remote. Punya ide yang mau didiskusikan? Ngobrol dengan tim Javapixa, kami balas dalam 24 jam.